Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, mengeklaim bahwa Program 3 Juta Rumah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto mampu mendongkrak perekonomian nasional melalui efek berganda dari sektor hulu hingga hilir. Pembangunan ini memicu permintaan besar pada 185 industri turunan, mulai dari bahan bangunan, furnitur, hingga jasa keuangan melalui penyaluran KPR, yang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah.Selain dampak industri, proyek padat karya ini dinilai efektif menyerap tenaga kerja dalam waktu singkat, di mana setiap satu unit rumah melibatkan rata-rata lima hingga tujuh pekerja. Pemerintah juga berkomitmen mengatasi backlog perumahan bagi 9,9 juta keluarga serta memperbaiki 26,9 juta rumah tidak layak huni dengan memanfaatkan aset negara dan tanah yang belum optimal untuk hunian terjangkau.Untuk mempercepat target tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan strategis berupa pembebasan BPHTB 0 persen bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan penghapusan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Selain itu, proses perizinan dipangkas secara signifikan dari maksimal 28 hari menjadi hanya 10 hari guna memastikan kebijakan tersebut benar-benar berpihak pada rakyat kecil.“Sebagai sektor yang bersifat padat karya dan padat modal, pembangunan perumahan tidak berdiri sendiri. Eksekusi Program 3 Juta Rumah memicu reaksi berantai dan multiplier effect yang menggerakkan roda ekonomi dari skala usaha mikro hingga korporasi besar,” ujar Qodari.

