JAKARTA – Kementerian Keuangan mengklaim bahwa International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia merespons positif arah kebijakan fiskal Indonesia, khususnya kemampuan negara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa membebani kebijakan fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal ini setelah bertemu dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva, pejabat tinggi Bank Dunia, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings di Amerika Serikat. “Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan menggali lebih dalam terkait fundamental ekonomi dan kebijakan kita. Selama ini mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” tutur Purbaya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/4/2026).Dalam pertemuan tersebut, Menkeu menjelaskan komitmen pemerintah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah ketidakpastian global. Purbaya bertemu dengan 18 investor besar termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments yang ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia. Pemerintah telah menyampaikan secara komprehensif berbagai kebijakan yang ditempuh, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diproyeksikan mencapai angka 5,5 persen.Kinerja perdagangan Indonesia pada Februari 2026 melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut dengan surplus USD1,27 miliar, didukung ekspor yang tumbuh positif hingga USD22,17 miliar. Secara kumulatif Januari–Februari 2026, surplus perdagangan tercatat USD2,23 miliar dengan total ekspor mencapai USD44,32 miliar atau meningkat 2,19 persen (ctc), mencerminkan daya saing yang tetap terjaga di tengah dinamika global. Kinerja ekspor tersebut didukung oleh komoditas unggulan seperti besi baja, lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk CPO), serta bahan bakar mineral.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *