Apa sebenarnya arti dari Briliant Jerks?
Beriliant Jerks adalah talenta di dalam perusahaan yang memiliki kinerja briliant, bisa diandalkan, sering memiliki ide dan gagasan yang baik, dan kerap kali menjadi problem solver dalam suatu masalah.
Dalam teori yang disampaikan oleh John Locke tentang Goal Setting Teory, seseorang akan lebih termotivasi apabila diberikan tujuan yang spesifik dan tantangan baru. Seorang talenta Briliant Jerks termasuk type talenta yang suka akan hal baru yang menantang.
Namun di balik kecermelangannya, terselip sikap arogan, merasa yang paling baik, meremehkan hasil kerja orang lain, sulit untuk berkolaborasi di dalam tim, dan kerap kali melanggar etika profesional.
Bagaimana posisi Briliant Jerks di dalam organisasi?
Di dalam organisasi, talenta Briliant Jerks nampak paling berkilau dan bersinar, karena hasil dari evaluasi KPI (Key Perform Indicator) selalu masuk kategori top performance. Banyak dari organisasi yang kagum dengan kilauan dari talenta tersebut.
Padahal jika dilihat dari evaluasi perilaku, biaya sosial yang dikeluarkan organisasi bisa sangat besar. Harmonisasi organisasi turun, meningkatkan potensi terjadinya konflik, dan memungkinkan adanya kenaikan persentase turnover karyawan, karena lingkungan kerja tidak nyaman dan budaya kerja menjadi toxic.
Seberapa berbahaya Briliant Jerk bagi organisasi?
1. Talenta Briliant Jerk akan mengalami Hero Syndrome, karena biasanya mereka akan diandalkan sebagai problem solver utama. Apa akibatnya? Organisasi menjadi sangat bergantung pada satu sosok dan tidak akan terdistribusinya knowledge dengan baik. Padahal di dalam organisasi, idealnya knowledge individu bisa diubah menjadi sebuah sistem agar tidak menimbulkan ketergantungan.
2. Leadership Avoidance. Jika karakter leader di dalam organisasi seperti itu, maka mereka tidak akan bisa tegas kepada talenta Briliant Jerks, karena merasa ada ketergantungan dan enggan untuk melatih talenta lainnya untuk berkembang.
3. Decrase Long Term Performance. Tim di dalam organisasi yang merasa tertekan, akan menurunkan rasa aman dan nyaman di dalam organisasi. Kolaborasi bisa berubah menjadi kompetisi tidak sehat, sehingga pada akhirnya kinerja tim secara kolektif akan menurun, walaupun di situ terlihat ada satu talenta yang bersinar.
Apa yang bisa dilakukan, khususnya manajemen atau HR di dalam organisasi/ perusahaan?
1. Integrasi antara behaviour dan performance di dalam KPI bisa di break down 70% dari hasil dan 30% menilai perilaku.
2. Lakukan talent mapping dalam 4 kuadran :
-Good Behaviour + High Performance = Star Talent
-Good Behaviour + Low Performace = Development
-Bad Behavior + High Performance = Briliant Jerks
-Bad Behavior + Low Performance = Exit
Dari talent mapping ini, manajemen akan lebih mudah melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap karyawannya dan bagaimana treatment selanjutnya.
3. Sebagai langkah preventif di awal, bisa melakukan filter dari sejak melakukan recruitment. Dengan menggunakan metode STAR (Situation, Task, Action dan Result), kita akan dapat menilai dan melakukan filter di awal, calon karyawan ini berada di dalam kuadran berapa. Sehingga manajemen bisa menemukan calon karyawan yang sesuai dengan value dan budaya di dalam organisasi.
Jadi kesimpulannya…
Organisasi yang sehat bukan yang diisi oleh orang-orang paling pintar, tetapi oleh orang-orang yang mampu membuat kepintarannya menjadi kekuatan kolektif.
Karena pada akhirnya, keberlanjutan bisnis tidak ditentukan oleh siapa yang paling bersinar, tetapi oleh siapa yang mampu menjaga cahaya tim tetap menyala.
Penulis:
Jeziano Rizkita Boyas S.E.,M.M.,CHRM.,C.H
Dosen Prodi Manajemen Universitas NU Sidoarjo & Kepala Lembaga Sumber Daya Manusia Universitas NU Sidoarjo

