Dokumentasi ketika Dika berada di Unhegemony Exhibition di Gedung Balai Pemuda Galeri Dewan kesenian Surabaya, pada tanggall 28 oktober sampai 3 november 2024

Di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya yang tak pernah sunyi, seorang mahasiswa semester akhir yang memilih jalan hidup berbeda bagi kebanyakan orang. Ia adalah Dika (23). Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya terlihat seperti anak punk dengan gaya yang nyentrik. Namun di balik itu, Dika adalah seorang seniman yang menjadikan seni sebagai alat untuk bercerita, melawan stigma, sekaligus mengekspresikan kegelisahan hidupnya. Suara kendaraan yang lalu lalang di Surabaya sering kali menjadi latar belakang lahirnya ide-ide dalam kepala Dika. Di balik gaya yang identik dengan anak punk, seperti rambut yang tidak biasa, aksesoris yang khas, serta gaya berpakaian yang mencolok, Dika sebenarnya adalah seorang seniman yang sedang meniti jalannya sendiri.
Ia merupakan mahasiswa semester delapan di Universitas PGRI Adibuana Surabaya, jurusan Pendidikan Seni Rupa. Di usia yang masih muda, ia telah menekuni berbagai bentuk seni, mulai dari kesenian barongan hingga lukisan yang kini bahkan telah sampai ke tangan kolektor luar negeri. Perjalanan Dika dalam kesenian tidak datang begitu saja. Kisahnya dimulai di lingkungan tempat ia tumbuh. Sejak kecil Dika tinggal di lingkungan desa yang masih kental dengan budaya Jawa, tradisi, cerita-cerita lama, dan benda-benda bersejarah bukan sesuatu yang asing baginya.
Salah satu sosok yang sangat mempengaruhi dirinya adalah sang kakek. Kakeknya dikenal sebagai orang yang masih berpegang kuat dengan nilai-nilai kejawen, Dalam kesehariannya, sang kakek sering menceritakan filosofi hidup orang Jawa, sejarah benda-benda pusaka, dan
makna dibalik tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dari kakeknya lah Dika mulai mengenal berbagai benda budaya Jawa, seperti keris, batu akik, hingga wayang, benda tersebut tidak hanya dilihat sebagai barang antik, tetapi memiliki cerita dan filosofi yang mendalam. Bagi Dika kecil semua itu terasa sangat menarik, Ketertarikannya pada budaya semakin kuat karena lingkungan tempat tinggalnya juga memiliki kelompok penari barongan.pertunjukan barongan sering digelar dalam berbagai acara di daerahnya.
Bagi Dika kesenian barongan bukan sekadar hiburan, ia melihatnya sebagai sesuatu yang hidup, sesuatu yang memiliki energi tersendiri Sejak saat itu rasa ingin tahunya terhadap budaya tradisional semakin tinggi. Pada tahun 2018, ketika ia masih duduk di bangku SMP, Dika akhirnya mulai terjun ke dunia barongan. Awalnya hanya karena rasa penasaran dan keinginan ingin mencoba sesuatu yang sudah ia sukai sejak masih kecil. Namun ternyata pengalaman itu menjadi kesan yang sangat mendalam dalam hidupnya. Menjadi penari barongan bukanlah hal yang mudah, Gerakannya membutuhkan tenaga, keseimbangan, serta konsentrasi yang tinggi. Selain itu setiap pemain juga harus mampu menyatu dengan irama musik yang mengiringi pertunjukan. Meski tidak mudah, Dika menikmati proses tersebut.
Ia merasa bahwa melalui barongan, ia bisa menyalurkan energi sekaligus mengekspresikan kecintaannya terhadap budaya Jawa. Seiring berjalannya waktu, Dika dan kelompoknya mulai sering mendapatkan undangan untuk tampil di berbagai acara. Mulai dari acara kampung hingga event yang lebih besar, mereka tampil dengan penuh semangat. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah tampil dalam sebuah event di daerah Surabaya, tepatnya di Tambak Oso. Menurut Dika, suasana saat itu sangat berbeda, penonton yang datang sangat ramai dan antusias. Dengan dentuman musik yang keras, sorak-sorai penonton, serta energi pemain yang membuat pertunjukan itu terasa sangat hidup.
“Itu salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya”, ujarnya. Dari aktivitas barongan itu pula, Dika mulai mendapatkan penghasilan. Walaupun jumlahnya tidak selalu besar, tetapi mampu menunjukkan bahwa hobi yang ia jalani ternyata juga bisa menghasilkan uang. Namun belakangan ini aktivitas barongan yang ia jalani sedang vakum. Bukan karena ia kehilangan minat, tetapi karena kondisi yang tidak memungkinkan. Pertunjukan barongan membutuhkan tim yang solid dan persiapan yang matang, namun saat ini Dika dan tim sedang cukup sibuk dengan berbagai aktivitas personalnya. “Sekarang agak susah kalau harus jalanin tim. Jadi untuk sementara vakum dulu”, jelasnya.
Meski demikian kecintaannya terhadap seni tidak benar-benar berhenti. Selain barongan, Dika juga menyalurkan kreativitasnya, dengan membuat berbagai merchandise, seperti kaos, kalung, hingga aksesoris tindik yang memiliki ciri khas tersendiri. Produk-produk tersebut tidak hanya menjadi bentuk kreativitas, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan baginya. Namun dari semua bidang seni yang ia tekuni, ada satu yang kini menjadi fokus utamanya yakni melukis. Bagi Dika, melukis bukan sekadar aktivitas seni biasa. Lukisan adalah tempat ia menumpahkan berbagai perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Awalnya, kegiatan melukis muncul dari kondisi emosional yang cukup berat. Dalam suatu masa dalam hidupnya, Dika pernah mengalami berbagai tekanan yang membuatnya merasa tertekan. Ia sempat mengalami masa-masa penuh kegelisahan. Banyak hal yang ia rasakan tetapi sulit ia ceritakan kepada orang lain. Akhirnya ia mulai melukis. Tanpa disadari, kegiatan itu justru menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya. Melalui kanvas dan cat, ia menemukan cara untuk mengekspresikan berbagai emosi yang ia rasakan—mulai dari kemarahan, kesedihan, kekecewaan, hingga rasa pasrah.

Dika menyelesaikan kedua lukisan berjudul ” cover up” dan “lawan”, pada tahun 2025 dan 2024. Ia menggambarkan kritik sistem ekonomi, sosial yang menghasilkan limbah dan konflik, serta semangat perlawanan punk sebagai suara kebebasan dan pembebasan diri dari norma sosial yang kaku, ekspresi dari protes terhadap sistem yang dianggap menindas, tidak adil, dan penuh ketimpangan.

Ia belum menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Baru ketika ia mulai melukis sebagai bentuk pelampiasan emosi, ia menyadari bahwa kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih dalam bagi dirinya. Dalam waktu beberapa tahun saja, Dika telah menghasilkan sekitar dua
puluh hingga tiga puluh lukisan. Beberapa di antaranya bahkan sudah dipamerkan dalam berbagai kesempatan. Yang lebih mengejutkan, beberapa lukisannya juga berhasil terjual hingga ke kolektor dari luar negeri, salah satunya dari Australia. Bagi Dika, pengalaman tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya tidak pernah menyangka karya saya bisa sampai ke luar negeri,” ujarnya dengan nada sederhana. Salah satu lukisan yang cukup berkesan baginya berjudul Hel(p). Judul tersebut sebenarnya merupakan permainan kata dari kata “help”. Namun bagi Dika, kata itu memiliki makna yang lebih dalam. Lukisan tersebut menggambarkan berbagai emosi yang pernah ia rasakan dalam satu masa kehidupan yang penuh tekanan.
“Hel(p) itu sebenarnya ungkapan perasaan waktu saya lagi kena banyak masalah,” jelasnya. Menariknya lukisan tersebut justru menarik perhatian dari kolektor lukisan asal Australia. Karya itu akhirnya terjual dengan harga 200 dolar, atau setara dengan 3 juta rupiah pada saat itu. Harga tersebut mungkin belum terlalu besar dalam dunia seni rupa, Namun bagi Dika, nilai sebenarnya bukan hanya pada uangnya. Bagi dirinya, fakta bahwa ada orang dari negara lain yang tertarik dengan karyanya, sudah menjadi pencapaian yang sangat berarti. Selain mengekspresikan emosi pribadi, karya-karya Dika juga banyak mengangkat isu sosial. Ia sering memperhatikan kondisi di sekitarnya, mulai dari masalah lingkungan hingga ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Salah satu lukisannya bahkan terinspirasi dari isu lingkungan yang kotor.
Meski dikenal sebagai anak punk, ia justru memiliki rasa kepedulian lingkungan yang cukup tinggi. Ia merasa tidak nyaman ketika melihat lingkungan yang kotor atau tidak terawat. Alih-alih mengeluh, Dika menuangkan keluh-kesahnya lewat lukisan yang ia buat. Selain itu, ia juga membuat lukisan yang menceritakan mengenai kondisi anak punk. Dalam pandangan Dika, anak punk sering kali dipandang negatif oleh masyarakat. Padahal menurutnya, banyak anak punk yang sebenarnya memiliki kepedulian terhadap berbagai isu sosial. Melalui lukisannya, Dika mencoba menunjukkan bahwa anak punk juga memiliki suara dan pemikiran yang layak didengar.
Dika, seorang anak punk yang memilih jalan hidup berbeda dari harapan orang tuanya, kini menjadi seniman yang sukses. Ia menghadapi tekanan dan konflik dengan orang tuanya, tapi akhirnya mereka memahami dan mendukung pilihannya. Dika memiliki mimpi besar, yaitu memiliki galeri dan studio seni sendiri, serta menjadi seniman yang dikenal secara luas. Dika
belajar nilai-nilai penting dari gurunya, seperti rendah hati dan tidak pelit berbagi ilmu. Ia terus berkarya dan menginspirasi orang lain dengan prinsip hidupnya: “Sejatinya pemenang merupakan kekalahan yang tidak menyerah.” Dengan semangat dan dedikasinya, Dika terus melangkah maju sebagai seniman yang sukses dan inspiratif.

Penulis: Sabbihisma Nizam Fawwaz, SMAN 15 Surabaya

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *