Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa nilai tukar petani (NTP) dan cadangan beras Indonesia mencapai angka tertinggi berdasarkan data yang dipaparkannya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Rabu (21/10/2026). Amran menyebut NTP Indonesia kini berada di angka 131, yang diklaim menjadi capaian tertinggi sejak 1992. Menurutnya, peningkatan tersebut didukung kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen serta kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras yang berdampak pada pendapatan petani.

Amran juga melaporkan cadangan beras di gudang pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton, melampaui rekor 2,6 juta ton yang pernah tercatat pada 1984, saat pemerintahan Presiden Soeharto. Selain stok di gudang, pemerintah memperhitungkan potensi produksi dari tanaman yang masih berada di sawah serta ketersediaan beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). Amran memaparkan potensi dari tanaman di lahan mencapai 10 juta ton, sektor horeka 10 juta ton, dan stok di gudang sekitar 4,5 juta ton, sehingga total ketersediaan diperkirakan mencapai 25 juta ton. “Kebutuhan per bulan itu 2,5 juta ton. Artinya apa? Kalau 25 juta ton dibagi 2,5 itu 10 bulan, sampai bulan Juli tahun depan stok kita aman,” kata Amran.

Di sektor ekonomi, Amran menyebut produk domestik bruto (PDB) pertanian tumbuh 5,74 persen, sementara nilai ekspor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun dan impor turun Rp41 triliun. Ia mengklaim perkembangan tersebut menghasilkan nilai tambah sekitar Rp208 triliun bagi perekonomian, yang dikaitkan dengan kebijakan pupuk dan kenaikan HPP. Pemerintah menilai capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Meski demikian, angka-angka tersebut merupakan data yang disampaikan Amran dalam sidang kabinet dan mencakup perhitungan stok serta potensi ketersediaan beras dari berbagai sumber.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *