Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan masih akan berlanjut. Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai pemulihan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, meski pemerintah tengah mengkaji revisi harga batu bara untuk kebutuhan domestik guna menjamin pasokan ke PT PLN.
Gangguan pasokan batu bara diakui menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pemadaman listrik. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut rendahnya harga batu bara untuk kebutuhan dalam negeri dibandingkan harga pasar global membuat sejumlah produsen lebih memilih menjual komoditas tersebut ke pasar ekspor. Kondisi ini diperparah oleh kendala operasional pada sejumlah pembangkit besar yang mengurangi pasokan listrik di sistem Jawa.
Dampak pemadaman mulai dirasakan pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Sejumlah UMKM mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat terhentinya aktivitas produksi dan terganggunya pemasaran berbasis internet selama listrik padam. Pelaku usaha pizza rumahan di Semarang, misalnya, mengaku kehilangan potensi omzet hingga Rp1,6 juta dalam sehari, sementara pengrajin dan produsen makanan rumahan juga mengeluhkan terganggunya proses produksi serta hilangnya pesanan dari pelanggan.
Fabby memperkirakan intensitas pemadaman bergilir masih berpotensi meningkat dalam satu hingga dua pekan ke depan apabila pasokan batu bara belum kembali normal. Sementara itu, PLN menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan menegaskan tengah mempercepat perbaikan pembangkit serta penyelesaian kontrak pasokan batu bara bersama pemerintah dan perusahaan pemasok. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan dan meminimalkan dampak pemadaman terhadap masyarakat maupun dunia usaha.

