Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan penyebab hujan lebat yang mengguyur Kota Surabaya pada Senin (22/6/2026) hingga menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. Meski Jawa Timur telah memasuki musim kemarau, BMKG menegaskan kondisi tersebut tidak berarti wilayah tersebut sepenuhnya bebas dari potensi hujan.
Prakirawan BMKG Juanda, Bhilda Maulida, mengatakan hujan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi suhu muka laut di sekitar Selat Madura yang terpantau cukup hangat. Kondisi tersebut meningkatkan kelembapan atmosfer dan mendukung terbentuknya awan hujan. Selain itu, BMKG juga mendeteksi adanya pola konvergensi atau pertemuan arah angin dalam skala lokal di wilayah Surabaya yang memperkuat pertumbuhan awan hujan.
BMKG memperkirakan potensi hujan di Surabaya masih dapat terjadi hingga Selasa (23/6/2026), meskipun dengan intensitas yang cenderung menurun. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan genangan maupun gangguan aktivitas akibat cuaca yang masih berpotensi berubah secara dinamis selama masa peralihan musim.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mencatat sedikitnya 17 titik genangan akibat hujan lebat yang berlangsung selama beberapa jam. Sebagian lokasi telah berangsur surut, namun sejumlah ruas jalan utama masih tergenang hingga siang hari. Pemerintah Kota Surabaya bersama petugas terkait terus melakukan penanganan untuk mempercepat surutnya genangan dan memastikan aktivitas masyarakat kembali normal.

