Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Pelemahan dipengaruhi sikap investor yang menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Nonfarm Payrolls (NFP), yang menjadi acuan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), mengatakan sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Selain menunggu data NFP, pasar juga masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.

“Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve,” ujar Muhammad Amru Syifa.

Amru memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS. Menurutnya, arah pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi hasil rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 serta data Nonfarm Payrolls AS yang dijadwalkan terbit pada akhir pekan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *