GRESIK — Peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita karier sering kali memicu kelelahan emosional yang mendalam. Menyikapi fenomena tersebut, tim mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menggelar program pengabdian masyarakat berupa pelatihan Psikoedukasi Manajemen Stres dan Komunikasi Asertif bagi ibu-ibu PKK di Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Pertemuan Desa Sukorejo pada Jumat, 10 Juli 2026 ini diinisiasi oleh Mila Kartika Wahyuningsih, Alvaretta Amanda Daiva, dan Moch. Ardo Firmansyah. Program ini sengaja disisipkan di sela-sela agenda rutin arisan bulanan PKK mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB agar menyatu alami dengan ritme sosial warga setempat tanpa membebani jadwal harian mereka.
Menghapus Budaya “Ibu Harus Selalu Kuat”
Pelatihan ini hadir sebagai respons nyata atas tingginya kerentanan ibu-ibu di tingkat komunitas terhadap stres kronis. Budaya patriarki yang menuntut “ibu harus selalu kuat” sering kali membungkam ekspresi emosi negatif dan memicu pengabaian terhadap kesehatan mental diri sendiri.
Terlebih, keterbatasan rasio tenaga psikolog di Indonesia membuat layanan kesehatan mental formal sulit dijangkau masyarakat perdesaan. Oleh karena itu, pendekatan psikoedukasi berbasis komunitas seperti ini menjadi jembatan strategis yang sangat relevan untuk mengatasi akar masalah rumah tangga, termasuk pola komunikasi yang kurang efektif.
Praktik Langsung, Bukan Sekadar Teori
Berbeda dengan seremoni formal pada umumnya, pelatihan ini dirancang menggunakan metode experiential and reflective learning (pembelajaran berbasis pengalaman dan refleksi). Dipandu oleh fasilitator berlatar belakang psikologi dan komunikasi, para peserta diajak aktif dalam beberapa sesi krusial:
- Teknik Relaksasi Butterfly Hug: Metode pelukan mandiri untuk meredakan kecemasan dan mengembalikan stabilitas emosi secara cepat.
- Komunikasi Asertif Berbasis I-Message: Latihan menyampaikan perasaan dan kebutuhan personal secara jujur kepada pasangan atau anak tanpa terkesan menyalahkan.
- Boundary Setting (Batasan Diri): Mengedukasi cara berkata “tidak” pada tuntutan yang melebihi kapasitas diri secara sehat tanpa dibayangi rasa bersalah.
- Roleplay & Lembar Komitmen: Peserta melakukan simulasi konflik rumah tangga, mengisi penilaian mandiri (self-assessment), dan menutup sesi dengan menandatangani Self-Care and Assertiveness Contract sebagai komitmen pribadi.
“Pelatihan sesingkat dua jam tentu bukan solusi tuntas untuk dinamika kesehatan mental yang kompleks. Namun, ini adalah langkah awal yang sangat berharga untuk membuka ruang aman (safe space) bagi para ibu agar berani bersuara tentang kelelahan mereka.” — Tim Pengabdian Masyarakat UNTAG Surabaya
Melalui model psikoedukasi terintegrasi ini, diharapkan ilmu yang didapatkan oleh ibu-ibu PKK Desa Sukorejo dapat terus digulirkan ke lingkungan sekitar. Tujuannya adalah membentuk ekosistem sosial perdesaan yang lebih suportif, terbuka, dan berkeadilan bagi seluruh perempuan.
-MAF

