Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pengembangan pusat data atau data center di Indonesia mempertimbangkan ketersediaan listrik dan air. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan kebutuhan air dan energi dalam jumlah besar menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi serta perizinan data center.
“Data center itu kan membutuhkan dua, itu listrik besar itu dan juga ketersediaan air. Jadi ya kita juga melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan itu potensi listrik dan ketersediaan air,” ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Ia juga menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berpeluang menjadi salah satu sumber energi untuk memenuhi kebutuhan listrik data center.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia memiliki potensi energi besar untuk mendukung industri data center, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Mamberamo di Papua sekitar 23 gigawatt (GW) dan Sungai Kayan di Kalimantan sekitar 12 GW. Pemerintah juga menargetkan penambahan pembangkit 69,5 GW melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, dengan 70% berasal dari energi baru terbarukan (EBT).

