Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah menjajaki perluasan sumber pembiayaan global melalui rencana penerbitan instrumen utang Panda Bond di pasar China. Langkah ini merupakan hasil kesepakatan awal antara Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, dengan Menteri Keuangan China, Lan Foan, dalam pertemuan di Washington DC pada agenda tahunan IMF-World Bank 2026. Melalui obligasi berdenominasi yuan ini, Indonesia mengincar efisiensi beban pembiayaan karena tingkat bunga di pasar China yang relatif rendah, yakni di kisaran 2,3 persen.Sebagai bentuk kerja sama timbal balik, pemerintah China juga menyatakan minatnya untuk menerbitkan obligasi di pasar domestik Indonesia. Purbaya menegaskan bahwa skema ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan sekaligus memperkuat hubungan bilateral di sektor keuangan. Kerja sama ini diharapkan dapat menarik partisipasi investor dari kedua negara, mengingat China merupakan mitra dagang utama Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan terhadap ekonomi nasional.Langkah strategis ini sekaligus menjadi pesan kompetitif bagi para investor global di pasar Amerika Serikat mengenai daya tarik investasi Indonesia. Selain bertujuan menekan cost of capital, diplomasi ekonomi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki alternatif pembiayaan yang lebih menguntungkan dari berbagai pihak. Koordinasi lebih lanjut akan terus dilakukan untuk mematangkan teknis penerbitan obligasi tersebut agar dapat segera terealisasi.“Kita sampaikan keinginan untuk menerbitkan Panda Bond di sana, dan dia sangat setuju. Bunganya di sana relatif murah, sekitar 2,3 persen, sehingga bisa menekan cost of capital kita. China juga bertanya apakah mereka bisa menerbitkan obligasi di Indonesia, saya bilang boleh. Ini bentuk timbal balik,” ujar Purbaya.

