Jakarta – Militer Israel resmi merilis peta garis penempatan pasukan baru di wilayah Lebanon Selatan yang mencakup puluhan desa di bawah kendali mereka. Langkah ini diambil hanya berselang beberapa hari setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah mulai diberlakukan. Garis pertahanan tersebut masuk sejauh 5 hingga 10 kilometer dari perbatasan, menciptakan wilayah yang diklaim Israel sebagai zona penyangga untuk melindungi kawasan utara mereka.Operasi yang melibatkan lima divisi bersama Angkatan Laut ini bertujuan membongkar infrastruktur milisi Hizbullah guna mencegah ancaman langsung bagi komunitas di Israel utara. Meski beberapa warga sipil mulai mengakses desa-desa di sekitar garis batas, otoritas Lebanon melaporkan bahwa pasukan Israel masih melarang warga memasuki sebagian besar wilayah di selatan garis tersebut. Sejauh ini, pihak Lebanon maupun Hizbullah belum memberikan komentar resmi terkait publikasi peta penempatan pasukan ini.Konflik yang pecah sejak awal Maret ini telah membawa dampak kemanusiaan yang besar bagi Lebanon dengan korban jiwa mencapai lebih dari 2.100 orang dan jutaan warga terpaksa mengungsi. Sementara itu, Israel menegaskan akan tetap menghancurkan bangunan maupun infrastruktur jalan di sepanjang perbatasan yang dinilai mengancam keselamatan tentara mereka atau dicurigai menjadi sarang bahan peledak.”Lima divisi, bersama pasukan Angkatan Laut Israel, beroperasi secara bersamaan di selatan garis pertahanan depan di Lebanon selatan guna membongkar infrastruktur teror Hizbullah dan mencegah ancaman langsung terhadap komunitas di Israel utara,” kata militer Israel.”Dan setiap bangunan yang mengancam tentara kami serta setiap jalan yang dicurigai dipasangi bahan peledak harus segera dihancurkan,” ucap Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *