JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah masih memiliki bantalan anggaran sebesar Rp420 triliun dalam bentuk sisa anggaran lebih (SAL) yang dapat digunakan jika terjadi gangguan suplai BBM akibat konflik global. Dalam konferensi pers terkait Kebijakan Transportasi dan BBM di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/4/2026), Purbaya menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir soal kenaikan harga BBM subsidi atau potensi anggaran habis. “Selama suplainya (BBM) ada, kita masih punya bantalan uang sebesar Rp420 triliun… Kalau kepepet itu masih bisa dipakai. Tapi rasanya, kita ke sana masih jauh,” ujar Purbaya.
Purbaya juga melihat arah politik di Amerika Serikat dan memperkirakan kenaikan harga minyak global tidak akan berkepanjangan. “Harga minyak kecil peluangnya bertahan di atas 100 untuk waktu yang berkepanjangan. Masyarakat tidak usah khawatir. Tidak usah spekulasi bahwa saya kehabisan uang,” pungkasnya. Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan BBM bersubsidi (Pertalite dan Solar) tidak akan dinaikkan. “Jika harga minyak tidak lebih dari 97 secara rata-rata, harga BBM ini bisa kita pertahankan sampai bulan Desember tahun ini,” ungkapnya.
Berikut harga BBM di Pertamina per 6 April 2026: Pertalite Rp10.000/liter, Pertamax Rp12.300/liter, Pertamax Turbo Rp13.100/liter, Pertamax Green 95 Rp12.900/liter, Biosolar Rp6.800/liter, Dexlite Rp14.200/liter, dan Pertamina Dex Rp14.500/liter. Pemerintah memastikan stok dan harga BBM subsidi tetap aman meskipun terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi harga minyak dunia. Airlangga menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dengan tidak menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir tahun.

