Beirut – Dua prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL dilaporkan gugur pada Senin, 30 Maret 2026, setelah ledakan keras menghantam konvoi logistik dan menghancurkan kendaraan mereka di wilayah Bani Hayyan. Insiden tragis ini terjadi hanya sehari pasca tewasnya seorang personel penjaga perdamaian Indonesia lainnya akibat hantaman proyektil di markas Ett Taibe. Saat ini, dua personel tambahan yang mengalami luka-luka sedang menjalani perawatan intensif, di mana salah satunya telah dievakuasi ke Beirut dalam kondisi kritis.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, mengutuk keras serangan tersebut dan menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh dijadikan target militer. Pihak UNIFIL kini tengah melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap aktor di balik serangan ini di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah yang telah menelan lebih dari 1.200 korban jiwa di Lebanon. Ketegangan di kawasan semakin tidak terkendali setelah adanya aksi saling balas serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam sebulan terakhir.
Situasi di Lebanon Selatan dilaporkan sangat tidak stabil dengan berbagai pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, termasuk serangan yang menyasar Markas Besar UNIFIL di Naqoura. Meski berada dalam ancaman bahaya tinggi dari peluru dan roket, lebih dari 8.000 personel penjaga perdamaian dari 50 negara tetap bertahan menjalankan mandat internasional. PBB menegaskan bahwa krisis ini tidak dapat diselesaikan secara militer dan mendesak semua pihak kembali pada solusi politik sesuai kerangka hukum yang berlaku.
“Kami dengan tegas mengutuk insiden yang tidak dapat diterima ini. Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target. Tidak ada solusi militer. Harus ada solusi politik.” — Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal PBB.
“Markas kami terkena peluru, serpihan, bahkan roket. Situasinya sangat berbahaya dan tidak stabil. Penyelidikan sedang berlangsung namun membutuhkan waktu.” — Kandice Ardiel, Juru Bicara UNIFIL.

