Aceh – Menjelang satu bulan pascabencana banjir dan longsor, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, masih dilanda krisis mendasar: listrik padam, air bersih langka, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sulit didapat. Ferdiansyah, seorang relawan Human Initiative yang telah 10 hari berada di Desa Upah, melaporkan bahwa dari 280 pengungsi awal, sekitar 100 orang masih belum bisa pulang karena rumah mereka masih tertimbun lumpur tebal dan yang terpenting, akses listrik belum pulih. Kondisi ini memaksa mereka terus bertahan di pengungsian, kebanyakan di masjid dan musala.
Kelumpuhan infrastruktur dasar ini memicu masalah berantai. Keterbatasan air bersih telah mendorong sebagian pengungsi melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS), meningkatkan risiko wabah penyakit. Sementara itu, kelangkaan BBM memukul distribusi bantuan; harga Pertalite di pengecer melonjak menjadi Rp30.000 per liter, dan antrean di tiga SPBU yang beroperasi bisa mencapai 3-4 kilometer. “Ada teman-teman pembawa bantuan dari Jakarta… gara-gara antre BBM, perjalanan yang seharusnya 3 hari jadi 5 hari,” papar Ferdiansyah.
Ferdiansyah, yang juga warga asli Aceh Tamiang, menyatakan bahwa meski korban jiwa tsunami 2004 lebih banyak, luasan wilayah terdampak kali ini justru lebih parah. Dari 12 kecamatan di kabupaten itu, semuanya terdampak dengan tingkat kerusakan yang masif. Human Initiative bersama sekitar 1000 relawan di 13 posko masih fokus pada fase tanggap darurat yang diprediksi akan berlangsung lama, sebelum nanti masuk ke fase pemulihan yang membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk membangun kembali wilayah yang hancur.

