Pandeglang – Polda Banten memastikan proses pencocokan DNA jenazah laki-laki tanpa identitas ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dengan sampel keluarga rombongan KM Arupadatu I masih berlangsung. Data antemortem dan sampel DNA keluarga dari Banten telah diserahkan kepada Polda Bengkulu untuk proses identifikasi. “Data antemortem dan sampel DNA keluarga dari posko kita di Banten sudah diserahkan ke Polda Bengkulu untuk persesuaian. Saat ini masih proses identifikasi, dan umumnya memakan waktu lebih kurang dua minggu,” kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli A Hutapea di Pandeglang, Kamis (17/9/2026).
Jenazah diperkirakan laki-laki berusia sekitar 50 tahun dengan tinggi 163 sentimeter. Jenazah ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Sabtu (12/9/2026), mengenakan celana pendek selancar. Setelah tidak ada warga setempat melaporkan kehilangan anggota keluarga, jenazah sempat dimakamkan sebelum makam dibongkar kembali dan jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu untuk autopsi serta pemeriksaan postmortem.
Pencocokan DNA dilakukan untuk memastikan apakah jenazah tersebut merupakan salah satu dari delapan orang KM Arupadatu I yang hilang kontak sejak 7 September 2026. Rombongan terdiri dari lima jurnalis, kapten kapal Warta, ABK Surakman, serta pemandu Heriyanto. Sebanyak 523 personel SAR gabungan sebelumnya melakukan pencarian selama 10 hari di perairan dan pulau sekitar Gunung Anak Krakatau hingga wilayah Banten, Lampung, dan Bengkulu, namun belum menemukan delapan orang tersebut.

