Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) terbanyak ketiga di Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), sebanyak 2.332 pekerja di Jatim kehilangan pekerjaan. Jumlah tersebut berada di bawah Jawa Barat dengan 5.044 kasus PHK dan Banten sebanyak 2.596 kasus, sementara total pekerja terdampak PHK secara nasional mencapai 23.470 orang.
Di sisi lain, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur mencatat angka yang berbeda, yakni hanya 357 kasus PHK pada periode yang sama. Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Disnakertrans Jatim, Sugeng Lestari, menjelaskan pengurangan tenaga kerja dipicu oleh turunnya permintaan pasar akibat perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut memaksa sejumlah perusahaan melakukan efisiensi melalui pengurangan karyawan.
Kepala Bidang Pengawasan dan K3 Disnakertrans Jatim, Tri Widodo, mengatakan mayoritas PHK terjadi di perusahaan yang sedang mengalami kondisi keuangan tidak sehat. Menurutnya, perusahaan yang masih sehat relatif jarang melakukan PHK. Saat ini, Disnakertrans tengah menangani persoalan ketenagakerjaan di PT Pakerin Mojokerto dan PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) Jombang. Pemprov Jatim juga mengupayakan berbagai langkah agar PHK dapat dihindari, seperti pengurangan jam kerja maupun kesepakatan penyesuaian upah antara perusahaan dan pekerja.
Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai prospek ekonomi Indonesia masih cukup menjanjikan berkat besarnya sumber daya alam, sumber daya manusia, dan pasar domestik. Namun, ia mengingatkan pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi yang bersifat sementara sehingga perlu diperkuat melalui investasi, ekspor, dan stabilitas makroekonomi. Senada, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong baik, meski pemerintah tetap perlu mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

