Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan dukungan internasional untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia akan difokuskan pada pengadaan peralatan serta teknologi modern yang belum tersedia di dalam negeri. Pemerintah mengapresiasi tawaran bantuan dari sejumlah negara sahabat, termasuk Jepang dan Singapura. Namun, kebutuhan bantuan akan diidentifikasi terlebih dahulu agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan operasi pemadaman di lapangan.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, penanganan karhutla saat ini diprioritaskan di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Data BNPB mencatat luas lahan terbakar di lima provinsi mencapai 18.421 hektare, dengan kebakaran terluas berada di Kalimantan Tengah sebesar 7.938 hektare, disusul Sumatera Selatan 5.194 hektare dan Jambi 2.025 hektare. Sementara itu, Riau dilaporkan sudah nihil karhutla. Penanganan juga dilakukan di sejumlah wilayah lain, termasuk Karanganyar, Gunung Sumbing, Kalimantan Timur, dan kawasan Ibu Kota Nusantara.

“Sesuai arahan pimpinan, pemerintah saat ini melakukan inventarisasi jenis bantuan yang diperlukan agar dukungan dari luar negeri tersebut benar-benar tepat guna dan tepat sasaran dalam memperkuat operasi penanggulangan karhutla,” kata Berton di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Ia menambahkan, sekitar 70 ribu personel gabungan telah disiagakan untuk menangani kebakaran di berbagai daerah, didukung armada udara dan peralatan pemadaman darat. BNPB terus mengoordinasikan upaya penanganan agar kebakaran dapat dikendalikan dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan dapat diminimalkan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *