Jakarta – Banjir bandang di Aceh menghancurkan Desa Bunin dan empat kampung lainnya hingga hilang total. Sebanyak 83 rumah tersapu tanpa jejak, menyisakan tanah kosong dan puing. Warga seperti Bukhari Muslim menggambarkan betapa cepat dan ganasnya air datang. “Suara banjir seperti gemuruh dari atas gunung… kami langsung lari menyelamatkan diri,” ujarnya. Sebagian warga kini sakit, kelaparan, dan tidur di jalan karena kehilangan semua harta benda.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menilai kedahsyatan bencana ini setara dengan tsunami kedua. Empat kampung Sawang, Jambo Aye, Peusangan, dan satu kampung lain hilang entah ke mana. “Malam itu empat kampung gak tau entah ke mana. Jadi, Aceh sekarang seperti tsunami kedua,” kata Mualem. Ia menegaskan pembukaan akses darat dan distribusi logistik harus menjadi prioritas utama agar warga yang terisolasi bisa ditangani.

BPBD Aceh Timur menyebut pendataan kerusakan terhambat karena jalan terputus dan jembatan ambruk. Data posko tanggap darurat mencatat 173 korban meninggal, 204 hilang, serta lebih dari 1,4 juta jiwa terdampak di 18 kabupaten/kota. “Korban yang meninggal dunia dilaporkan sebanyak 173 orang,” kata Ketua Posko M Nasir. Ribuan rumah, fasilitas umum, sekolah, tempat ibadah, hingga lahan pertanian rusak. Fokus saat ini adalah evakuasi, bantuan logistik, dan pemulihan konektivitas selama masa tanggap darurat.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *