Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dalam kondisi aman. Stok Pertalite atau RON 90 berada di kisaran 16 hingga 18 hari, sedangkan BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan jenis lainnya rata-rata tersedia untuk lebih dari 20 hari. Bahlil menjelaskan, kondisi tersebut perlu diperhatikan di tengah ketidakpastian global yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia hingga 105–106 dolar AS per barel.
Bahlil menyebut antrean kendaraan di sejumlah SPBU bukan disebabkan oleh kelangkaan stok BBM secara nasional, melainkan kendala teknis dalam distribusi antardaerah. Di Bali, misalnya, cadangan BBM sempat menurun akibat keterlambatan kapal pengangkut dari Jawa. Pasokan di wilayah tersebut kini telah meningkat menjadi sekitar 11 hingga 12 hari, dengan target cadangan dinaikkan menjadi 15 hari. Untuk memperlancar distribusi, Pertamina menambah armada kapal pengangkut BBM dari tiga menjadi tujuh kapal.
Selain Bali, kendala distribusi juga terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra akibat pendangkalan sungai yang dipengaruhi kondisi cuaca. Pemerintah bersama Pertamina berupaya mengatasi hambatan tersebut, termasuk dengan mengalihkan sebagian pengangkutan BBM melalui jalur darat. Bahlil menegaskan, prioritas pemerintah saat ini adalah memastikan distribusi berjalan lancar agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. “Secara cadangan nasional tidak ada terlalu sesuatu yang harus kita khawatirkan. Sekarang distribusinya yang kita perlancar. Ini yang saya minta kepada Pertamina untuk menambah armada,” ujarnya.

