NTT – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mempercepat pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) yang berlokasi di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), fasilitas ini dirancang sebagai tambak garam raksasa yang tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada kesiapan fasilitas industri pengolahan. Hingga akhir tahun 2025, progres fisik konstruksi dilaporkan telah melampaui 85%, sementara kesiapan kolam produksi telah mencapai angka 62%.

Target operasional untuk produksi perdana ditetapkan pada Maret 2026, bertepatan dengan berakhirnya musim hujan guna memastikan proses penguapan air laut berjalan maksimal. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menjelaskan bahwa siklus produksi awal membutuhkan waktu sekitar 60 hari sejak air laut dialirkan hingga membentuk kristal garam. Setelah siklus pertama berhasil, proses panen dapat dilakukan secara berkelanjutan selama musim kemarau dengan sistem produksi yang dirancang terus-menerus.

K-SIGN diproyeksikan menjadi pilar utama dalam pemenuhan kebutuhan garam nasional dengan fokus pada kualitas garam industri. Produk yang dihasilkan ditargetkan memiliki tingkat kemurnian NaCl hingga 97%, memenuhi standar tinggi yang dibutuhkan oleh sektor manufaktur. Dengan hadirnya tambak raksasa di lokasi yang strategis ini, pemerintah berharap Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor garam industri dan memperkuat kemandirian ekonomi di sektor kelautan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *