Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengumumkan kebijakan pemangkasan target produksi nikel dan batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya tahun 2026. Langkah strategis ini diambil pemerintah untuk mengendalikan keseimbangan supply and demand di pasar global. Dengan mengurangi volume produksi, pemerintah berharap dapat menekan angka kelebihan pasokan yang selama ini menjadi penyebab utama anjloknya harga kedua komoditas unggulan tersebut.
Bahlil menyoroti bahwa harga batu bara terus mengalami tren penurunan yang signifikan, di mana pada Desember 2025 harganya menyusut menjadi 98,26 dolar AS per ton dibandingkan periode tahun sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh besarnya kontribusi suplai dari Indonesia yang mencapai hampir 50 persen atau sekitar 500 hingga 600 juta ton dari total perdagangan dunia. Dominasi suplai yang terlalu besar inilah yang dinilai membuat harga acuan sulit menguat, sehingga intervensi melalui pengurangan kuota produksi menjadi sangat mendesak.
“Semuanya kami pangkas. Bukan hanya nikel, batu bara pun kami pangkas,” tegas Bahlil.
Selain sebagai upaya stabilisasi harga, kebijakan ini juga berfungsi sebagai instrumen pengawasan ketat terhadap perusahaan pertambangan. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak segan untuk meninjau ulang RKAB bagi perusahaan-perusahaan yang terbukti tidak patuh terhadap aturan yang berlaku. Melalui kendali produksi ini, pemerintah berkomitmen untuk memperbaiki tata kelola pertambangan nasional sekaligus memastikan nilai ekonomi sumber daya alam Indonesia tetap kompetitif di kancah internasional.
