Gaza – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan distribusi bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza terhambat akibat penutupan perbatasan Zikim dan Erez oleh Israel, meski gencatan senjata dengan Hamas telah berlaku lebih dari 10 hari sejak 10 Oktober 2025. Juru Bicara PBB Farhan Haq menekankan bahwa penutupan ini menyulitkan pekerja kemanusiaan menjangkau wilayah utara dengan dukungan vital sesuai skala kebutuhan, melansir Antara pada Kamis (23/10/2025). Meski demikian, keluarga mulai berpindah ke wilayah utara yang kini aksesibel, dengan lebih dari 425.000 pergerakan penduduk dari selatan sejak gencatan dimulai.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan peningkatan operasi darurat di wilayah tengah dan selatan Gaza, di mana enam dari 10 misi kemanusiaan berhasil pada Senin (20/10/2025), termasuk pengiriman tangki air, perlengkapan kebersihan, dan bahan bakar. Pada hari itu, PBB berhasil membawa truk tangki bahan bakar serta ratusan palet popok bayi. Secara keseluruhan, truk bantuan mengangkut hampir 1.500 ton pasokan dari perbatasan Karem Abu Salem dan Kissufim, dengan tiga perempatnya makanan, sisanya bahan tempat tinggal, pakan ternak, pasokan kesehatan, air, sanitasi, dan kebersihan. Pengungsi kini berlindung di lokasi seperti Jabaliya dan dua sekolah di Beit Lahiya, yang sebelumnya tak tergapai karena operasi militer Israel.

Haq menekankan urgensi pembukaan perbatasan Rafah agar bantuan mengalir lancar, sambil memperingatkan bahwa ujian sebenarnya adalah keberlanjutan gencatan senjata kali ini. Di Tepi Barat, PBB menyambut surat senator AS kepada Presiden Donald Trump yang mendesak tindakan tegas terhadap rencana aneksasi Israel, dengan Haq menegaskan dukungan untuk upaya mencegah perubahan status quo. Situasi ini menyoroti tantangan berkelanjutan dalam krisis kemanusiaan Gaza pasca-gencatan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *