SURABAYA – Aribowo, Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga, menyatakan bahwa munculnya premanisme berkedok organisasi masyarakat (ormas) disebabkan oleh minimnya lapangan kerja dan kurangnya peran negara dalam menyediakan fasilitas serta kreativitas ekonomi. Hal ini disampaikannya pada Jumat, 16 Mei 2025. Ia menilai bahwa keberadaan ormas nakal tidak hanya melanggengkan praktik premanisme, tetapi juga mengganggu stabilitas sosial, terutama dengan seringnya mereka melakukan pungutan liar terhadap pelaku UMKM dan perusahaan.
Menurut Aribowo, solusi dari masalah ini adalah dengan meningkatkan keterampilan, pendidikan, dan menciptakan peluang kerja agar masyarakat tidak terdorong memasuki sektor ilegal. Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam menangani ormas nakal karena memiliki kekuasaan dan sumber daya yang memadai. Namun ia mengingatkan bahwa penyelesaian masalah ini harus dilakukan tanpa cara koersif, seperti praktik penembakan misterius (petrus) pada masa lalu yang melanggar hak asasi manusia.
Lebih lanjut, Aribowo mengungkapkan bahwa ormas nakal bisa sulit diberantas apabila memiliki hubungan dekat dengan elite politik, sebab fenomena ini bukan hal baru dan pernah terjadi sejak masa Orde Baru. Ia menilai ormas saat itu sengaja dibentuk untuk kepentingan politik segelintir kelompok. Karena itu, ia mendorong masyarakat agar tetap kritis terhadap keberadaan ormas dan peran negara, agar tidak memberi ruang bagi kelompok yang melanggar hukum.
