Jakarta – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat bahwa membiarkan Israel merusak gencatan senjata dengan menyerang Lebanon adalah sebuah “kebodohan”. Meski Presiden Donald Trump mengklaim telah meminta Benjamin Netanyahu meredakan ketegangan, Israel justru terus melancarkan serangan mematikan, termasuk yang menewaskan empat petugas penyelamat di Borj Qalaouiye. Araghchi menilai Netanyahu sengaja memperpanjang perang demi menghindari kelanjutan persidangan kasus korupsinya yang digelar Minggu ini.Krisis ini dipicu oleh perbedaan persepsi mengenai cakupan wilayah gencatan senjata yang dimulai sejak Rabu (8/4). Iran mengancam akan merespons secara militer atau memblokir Selat Hormuz jika serangan di Lebanon tidak dihentikan, mengingat lebih dari 300 orang telah tewas selama periode gencatan senjata tersebut. Di sisi lain, AS melalui JD Vance menyatakan bahwa Israel telah sepakat untuk menahan diri, namun fakta di lapangan menunjukkan militer Israel tetap mengeluarkan perintah evakuasi massal di Beirut serta menghancurkan infrastruktur sipil.Situasi di Lebanon telah berkembang menjadi perang terbuka sejak awal Maret, menyusul pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada akhir Februari. Strategi “bumi hangus” yang dilakukan Israel di Lebanon selatan saat ini dikhawatirkan merupakan replika dari operasi di Rafah pada 2024, di mana klaim pembatasan operasi militer oleh AS seringkali tidak sesuai dengan realitas kehancuran total di lokasi konflik.”Jika AS ingin meruntuhkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu pada akhirnya adalah pilihannya. Kami menilai itu bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” ujar Abbas Araghchi.”Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya,” tulis Araghchi melalui media sosial.

