Jakarta – Militer Israel (IDF) resmi membuka penyelidikan terkait insiden tewasnya tiga personel TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon selatan dalam dua hari terakhir. Melalui pernyataan di akun Telegram resminya, IDF menegaskan bahwa peninjauan menyeluruh sedang dilakukan untuk memastikan apakah serangan tersebut dipicu oleh aktivitas kelompok milisi Hizbullah atau berasal dari tindakan pasukan Israel.

Pihak IDF menyatakan bahwa lokasi kejadian merupakan area pertempuran aktif, sehingga penyebab ledakan belum bisa dipastikan secara sepihak. Berdasarkan data terkini, dua prajurit TNI gugur di wilayah Bani Hayyan pada Senin (30/3) akibat ledakan yang menghancurkan kendaraan mereka, menyusul insiden serupa yang menewaskan Praka Farizal Rhomadhon di desa Adchit Al Qusayr pada hari sebelumnya.

Merespons tragedi ini, pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono telah mengutuk keras serangan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera menggelar pertemuan darurat. Saat ini, UNIFIL memiliki sekitar 10.000 pasukan penjaga perdamaian untuk mengawasi garis demarkasi Lebanon-Israel, di mana 1.200 personel di antaranya merupakan prajurit dari Tentara Nasional Indonesia.

“Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengetahui keadaan dan menentukan apakah insiden itu diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau IDF,” demikian pernyataan IDF pada Selasa (31/3).

“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat,” tulis Menlu Sugiono dalam unggahannya di media sosial X.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *