Jakarta – Selasa, 17 Maret 2026, Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian mengatakan, Pemerintah memantau berbagai potensi yang bisa memengaruhi perekonomian nasional akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran. Sejauh ini, sejumlah indikator menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik, berkat permintaan domestik yang kuat, stabilitas sektor eksternal, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid. Lebih lanjut, Menko Perekonomian menyebut, dalam menghadapi dinamika global, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap difungsikan sebagai peredam kejut (shock absorber) melalui berbagai program dukungan.
Di antaranya, bantuan pangan sebanyak Rp11,92 triliun, penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri, serta subsidi dan kompensasi energi. Berdasarkan data per bulan Februari 2026, pendapatan negara tercatat sebanyak Rp358 triliun atau sekitar 12,8 persen dari target APBN. Sedangkan belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau 41,9 persen dari pagu APBN. Defisit anggaran tetap terkendali di kisaran Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen dari PDB.
Pada kesempatan itu, Airlangga juga menyampaikan, Prabowo Subianto Presiden sudah memberikan sejumlah arahan strategis untuk memitigasi dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian nasional. Antara lain, melalui percepatan ketersediaan energi, efisiensi konsumsi bahan bakar, memperluas penerapan work from home, serta penguatan disiplin fiskal supaya defisit APBN tetap terjaga di bawah 3 persen dari PDB. Menko Perekonomian menegaskan, seluruh kebijakan terus dipantau dan dievaluasi secara dinamis, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi global serta dampaknya terhadap perekonomian domestik.

