JAKARTA – Lonjakan pemudik pada Lebaran 2026 kembali membuka borok persoalan klasik transportasi Indonesia, dengan ketimpangan infrastruktur dan lemahnya manajemen arus menjadi sorotan utama. Di jalur penyeberangan Gilimanuk-Ketapang, kemacetan parah mencapai 45 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk hingga wilayah Jembrana, sementara di sisi lain Pelabuhan Merak justru terpantau relatif lengang. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo mengungkapkan lima faktor utama penyebab kemacetan di Gilimanuk.

“Kita menghadapi situasi di mana dua momentum besar terjadi bersamaan. Ini membuat volume kendaraan meningkat drastis di luar kapasitas normal,” ujar Khoiri, merujuk pada bertemunya arus mudik Lebaran dan arus keluar Bali menjelang Hari Raya Nyepi. Faktor lainnya meliputi sistem akses pelabuhan yang terlalu terbuka tanpa kontrol tiket daring, keterbatasan kapasitas dermaga, pola kedatangan kendaraan tidak terjadwal, serta jalan nasional yang berubah fungsi menjadi area penyangga darurat.

Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyoroti ironi antara Gilimanuk yang lumpuh dan Merak yang lengang sebagai simbol perencanaan belum optimal. Ia menekankan perbedaan mendasar adalah ketersediaan alternatif pelabuhan. “Jawa–Bali itu single corridor. Ketika ada gangguan, dampaknya langsung masif karena tidak ada pilihan lain,” jelasnya. Djoko juga menyoroti akar masalah pada lemahnya transportasi umum di daerah serta mendorong perluasan program mudik gratis, khususnya rute Bali-Jawa Timur, sebagai solusi konkret mengurangi pemudik sepeda motor.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *