JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan harapannya agar skenario terburuk konflik di Timur Tengah tidak terjadi, mengingat perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah berlangsung sekitar dua pekan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), Presiden menegaskan terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak konflik, termasuk kemungkinan penghematan anggaran. “Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tetapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang,” kata Prabowo.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario proyeksi pemerintah apabila konflik berlangsung dalam jangka waktu panjang, mulai lima hingga 10 bulan. Dalam skenario terburuk jika perang berlangsung hingga 10 bulan, harga minyak mentah dunia diperkirakan mencapai 115 dolar AS per barel, dengan kurs rupiah di Rp17.500, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan defisit APBN membengkak hingga 4,06 persen. Skenario moderat dengan harga minyak 97 dolar AS per barel akan mendorong defisit menjadi 3,53 persen.
Airlangga menjelaskan bahwa menjaga defisit APBN di bawah tiga persen akan menjadi tantangan berat dalam situasi ini, kecuali pemerintah bersedia memotong belanja dan pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, Presiden Prabowo menyatakan kondisi Indonesia sejauh ini masih relatif aman dari dampak langsung konflik, namun mengingatkan jajarannya untuk tetap waspada. “Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek,” ujarnya. Luhut Binsar Pandjaitan selaku Ketua Dewan Ekonomi Nasional juga melaporkan analisis terkait potensi dampak konflik terhadap keuangan negara.

