Jakarta — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan sebanyak 25 desa di wilayah Sumatera terdampak banjir bandang dan tanah longsor hingga dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 17 desa berada di Provinsi Aceh, sementara 8 desa lainnya tersebar di Sumatera Utara. Data tersebut merupakan hasil pembaruan setelah pemerintah pusat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan verifikasi lanjutan atas laporan dari pemerintah daerah.

Menurut Tito, sejumlah desa tidak lagi dapat dihuni karena mengalami kerusakan parah, baik tertimbun material longsor maupun tersapu banjir bandang. Infrastruktur dasar seperti rumah warga, fasilitas umum, serta pusat pemerintahan desa rusak total, sehingga aktivitas sosial dan pelayanan publik lumpuh. Pemerintah juga masih membedakan antara desa yang benar-benar hilang dengan desa yang terisolasi akibat terputusnya akses jalan dan jembatan.

Pemerintah pusat saat ini memfokuskan langkah penanganan pada pemulihan dan relokasi warga terdampak, termasuk penyediaan hunian sementara dan rencana pembangunan hunian tetap di lokasi yang lebih aman. Mendagri menegaskan koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta aparat TNI dan Polri terus diperkuat guna memastikan bantuan logistik dan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi, sekaligus meminimalkan risiko bencana susulan di wilayah rawan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *