Aceh – Warga korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang menyuarakan keluhan mengenai kurangnya pasokan sembako dan bantuan dari pemerintah. Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah tiga kali berkunjung ke lokasi bencana, para korban mengaku bahwa bantuan yang mereka terima dari saluran resmi masih sangat terbatas. Sebaliknya, selama ini mereka lebih banyak mengandalkan bantuan dari relawan dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keluhan utama warga adalah ketidakmerataan dalam penyaluran bantuan. Mereka merasa bahwa bantuan pemerintah belum menjangkau secara efektif, khususnya bagi korban yang tidak berada di pengungsian utama di sepanjang Jalan Nasional. Akibatnya, banyak korban di lokasi yang lebih terpencil atau sulit dijangkau merasa tertinggal dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.

Selain sembako, warga juga mendesak pemerintah untuk segera memulihkan pasokan listrik dan mencukupi kebutuhan air bersih yang masih menjadi masalah krusial pascabencana. Hingga saat ini, bantuan sembako yang mereka terima baru sebatas beras, mi instan, dan telur, yang dinilai belum cukup untuk mendukung pemulihan jangka panjang. Situasi ini menyoroti tantangan dalam logistik dan pemerataan bantuan pada fase tanggap darurat yang berlanjut.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *