Surabaya – dr. Zulvia Oktanida Syarif, Psikiater PDSKJI, menyoroti peningkatan kasus bullying di sekolah yang kini berdampak serius pada kesehatan mental remaja Indonesia. Bullying, baik fisik, verbal, maupun cyber, dilakukan sengaja untuk menyakiti korban yang tidak berdaya. “Bullying itu kekerasan yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti orang lain. Dampaknya sangat signifikan terhadap perkembangan otak anak dan remaja yang sedang berada pada fase krisis identitas,” jelas dr. Vivi dalam acara di DPR RI, Jakarta, pada 20 November 2025.

Remaja rentan mengalami kecemasan, depresi, hingga keinginan bunuh diri akibat tekanan sosial dan kurangnya penerimaan dari teman sebaya. Korban bisa menjadi agresif pada diri sendiri atau orang lain, terutama anak berkebutuhan khusus atau dengan pola pengasuhan buruk. Penelitian PDSKJI menemukan 81% remaja memiliki fungsi eksekutif rendah, memengaruhi pengambilan keputusan dan pengelolaan emosi. “Ketika tidak ada penerimaan dari lingkungannya, di situlah mulai muncul berbagai isu kesehatan mental. Dampaknya bisa berupa kecemasan, depresi, bahkan depresi berat yang berujung pada keinginan mengakhiri hidup,” tegasnya.

PDSKJI mendorong skrining kesehatan mental di sekolah, pelatihan guru dan orang tua, serta integrasi kurikulum penguatan fungsi eksekutif. Paparan digital tak terkendali memperburuk disfungsi memori dan konsentrasi. “Kita melihat generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara psikologis,” ujar dr. Vivi. Ia sering menangani kasus depresi berat, self-harm, dan drop out akibat bullying, serta mendesak masyarakat lebih responsif agar mewujudkan generasi emosional kuat untuk Indonesia Emas.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *