Surabaya – Lebih dari 100 warga Dusun Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, mengungsi di SDN Supiturang 4 akibat erupsi Gunung Semeru kemarin yang memicu awan panas guguran dan lahar hujan. Awalnya, jumlah pengungsi mencapai 64 orang pada sore hari, didominasi lansia, lalu bertambah di malam harinya. “Karena rumah-rumah warga yang di Supiturang itu terdampak laharnya Semeru, habis. Jadi sebagian diarahkan mengungsi ke sini. Data sementara kemarin 64, sekarang ada penambahan mungkin perkiraan 100 lebih,” ujar salah satu petugas posko.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau lokasi pengungsian bersama stakeholder, memuji pembagian ruang yang sudah baik untuk anak-anak, lansia, dan keluarga, meski terasa padat karena situasi on-off. Ia menekankan perlunya penanganan space agar mobilitas lebih longgar. “Secara pembagian sudah bagus, ada anak anak, ada lansia, ada keluarga, karena on off jadi kelihatan agak padat, nanti sambil berjalan dilakukan bagaimana penanganan dari sisi space yang ada, supaya semua bisa melakukan mobilitas dengan lebih longgar,” katanya.
Khofifah juga mendorong tim medis dan Dinsos untuk memantau kesehatan serta kondisi psikologis pengungsi, terutama risiko ISPA akibat debu vulkanik. Saat ini, aktivitas Semeru masih di Level IV (awas), meski getaran banjir lahar dan erupsi tak terekam sejak pukul 19.56 WIB. “Tetapi mungkin butuh penguatan tim kesehatan supaya masing-masing termonitor. Kadang kadang kondisi psikologis tertentu, misalnya, tensi menjadi naik dan seterusnya. Mungkin ISPA ya, jadi untuk saluran pernapasan akut, ini juga harus dilakukan intensifikasi pemeriksaan dan proses penanganannya,” jelas gubernur.
