Surabaya — Pecel semanggi telah lama menjadi salah satu kuliner khas Jawa Timur yang lekat dengan masyarakat Surabaya. Hidangan berbahan daun semanggi, sayuran rebus, dan bumbu tempe ini ternyata memiliki sentra pembuatannya sendiri di Kampoeng Semanggi, sebuah kawasan yang berada di Jalan Kendung, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, Surabaya Barat. Di kampung inilah lebih dari 120 perajin masih mempertahankan tradisi meracik kuliner legendaris tersebut.

Kampoeng Semanggi kini tidak hanya dikenal sebagai pusat produksi pecel semanggi, tetapi juga berkembang menjadi tujuan wisata edukasi. Salah satu kunjungan terbaru berlangsung pada 17 November 2025, ketika Universitas Ciputra Surabaya dan Universiti Utara Malaysia datang untuk mempelajari proses pengolahan semanggi. Para peserta diperkenalkan dengan berbagai olahan inovatif, mulai dari stik semanggi, nastar semanggi, es teller semanggi.

Ketua Paguyuban Kampoeng Semanggi, Athanasius Suparmo, mengungkapkan bahwa produk olahan semanggi dari kampung tersebut telah diminati pasar internasional.
“Produk-produk ini ternyata sudah pernah dikirim hingga ke luar negeri, tepatnya ke Australia,” ujarnya.

Suparmo menambahkan bahwa pada tahun 2024, pihaknya telah mengajukan usulan kepada pemerintah agar Kampoeng Semanggi ditetapkan sebagai kawasan wisata edukasi. Ia menjelaskan bahwa lahan di sekitar kampung direncanakan untuk dikembangkan sebagai area budidaya semanggi sekaligus pusat promosi bagi para pelaku UMKM.

Dengan jumlah perajin yang mencapai ratusan, Kampoeng Semanggi dinilai memiliki potensi besar untuk terus tumbuh sebagai sentra kuliner dan destinasi wisata edukatif di Surabaya. Inovasi produk serta komitmen warga menjadi modal utama dalam melestarikan salah satu kuliner ikonik kota pahlawan tersebut.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *