Jakarta – Kemenhub buka peluang swasta bangun kereta gantung sebagai feeder angkutan penumpang rute Stasiun LRT Harjamukti ke Kota Wisata/Mekarsari di Bogor, karena APBN 2025-2029 nggak cukup. Investasi proyek ini USD 10,4 juta per km atau Rp173,9 miliar, pakai teknologi Unitsky String Transport dari Belarusia. “Ke depan ada juga kita yang full swasta. Kita tuh ingin menyambungkan dari Kota Wisata/Mekarsari-LRT Harjamukti. Kita akan menggunakan feeder-nya adalah kereta gantung,” kata Sekjen Kemenhub Antoni Arif Priadi di Rakornas Kadin Indonesia.
Rincian biaya prasarana jalur USD7,4 juta/km, stasiun depo pemeliharaan USD26,5 juta, sistem kendali lisensi USD12,4 juta, plus 41 unit kereta masing-masing USD630 ribu. Pilihan kereta gantung ini karena keterbatasan lahan dan harga tanah yang mahal di Jakarta. “Kenapa kereta gantung? Masalah tanah itu luar biasa di Jakarta. Enggak jadi-jadi (nanti pembangunannya). Akhirnya swasta diminta silakan kalau ada yang berminat, nanti seperti apa,” ujar Antoni.
Sementara itu, berita lain soal Kereta Cepat Whoosh yang udah angkut 12 juta penumpang dalam 2 tahun operasi sejak 17 Oktober 2023, dengan 99,9% tepat waktu dan zero accident. “Dari sisi operasional, Whoosh telah menuntaskan hampir 40 ribu perjalanan dengan tingkat ketepatan waktu mencapai 99,9 persen dan zero accident sepanjang dua tahun perjalanan,” kata GM Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa. Whoosh juga punya 188 gerai di stasiun, termasuk UMKM dan merchandise resmi, plus 20.996 kartu loyalitas FWC hingga Oktober 2025.
