Jakarta – Setelah lebih dari dua dekade dan menjalani 37 operasi, Chusnul Chotimah (55), korban selamat bom Bali 2002, masih berjuang dengan luka-luka yang dideritanya. Kini, ia khawatir kehilangan akses pengobatan akibat pemotongan anggaran pemerintah yang diduga untuk mendanai program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemangkasan ini berpotensi mengganggu layanan publik, termasuk dana dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang selama ini membantunya mendapatkan perawatan medis dan psikiatris.Ketua LPSK Achmadi menyatakan lembaganya mendukung efisiensi anggaran yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, meskipun anggaran LPSK dipangkas lebih dari setengahnya menjadi sekitar Rp108 miliar. Sementara pemerintah menegaskan bahwa efisiensi hanya menyasar pengeluaran yang tidak esensial, banyak pihak khawatir kebijakan ini berdampak pada layanan penting. Kritik terhadap pemotongan anggaran ini pun menjadi bagian dari aksi protes “Indonesia Gelap” yang digelar di berbagai wilayah, termasuk di sekitar Istana Kepresidenan.Bagi Chusnul, pemotongan dana LPSK berarti harus menanggung biaya medis sendiri, sementara ia juga harus membiayai pengobatan anaknya yang menderita kelainan pembekuan darah langka. Bersama korban selamat bom Bali lainnya, ia telah mengirim surat ke DPR dan Prabowo, meminta agar LPSK dikecualikan dari pemotongan anggaran. Tanpa bantuan itu, ia merasa mustahil bisa mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkannya.
+ There are no comments
Add yours